Friday, 11 April 2014

Dieng Dan pesonanya (dan sisa-sisa drama didalamnya) Bag. 2


Telaga Dringgo menjelang pagi
Dimana Bumi dipijak, Disitu Langit dijunjung...Hormati tempat tujuan dengan tidak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki, tidak mengambil apapun kecuali foto (dan jangan pipis disamping tenda kecuali kebelet hehehe)

Sebelum saya lanjutkan perjalanan saya ke Telaga Dringgo, kami sadar bahwa inilah hikmah yang kami ambil setelah beberapa kejadian berikut:

* Kereta tujuan Purwokerto yang telat 2 jam memberikan kami banyak waktu untuk menunggu dan menyiapkan kembali apa kiranya bahan persiapan yang masih belum lengkap, kebetulan sekali Stasiun Kota sudah dilengkapi dengan beberapa minimart yang sangat terlihat jelas saling berkompetisi untuk mendapatkan pembeli, "kenapa sih mereka saingannya sampe segitu amatnya? Satu aja ga cukup ya?" (jadi panjang yaaaa), oke lanjut

*  Sejak hampir dibawa lari supir taxi hehehe (reeebay), lebih tepatnya: karena sibuk memakai jas hujan didalam taxi (nah...sampe skrg saya juga bingung kenapa dia pake jas hujan dalam taxi ya?) dan akhirnya jadi kelewatan, kak Titi pun sukses stress bersama supir taxi yang over dosis pedenya (jadi sebenernya kak, ngapain ya pake jas hujan dalam taxi? Bukannya pas turun stasiun bisa lari-lari kecil ala film sounds of music gitu ya? Atau kalau pas ada efek hujannya jadi mirip mirip lari centi manja minta dikejar ala Film bollywood) (panjaaaangin aja teruuus mik)

intinya kak Titi berhasil sampai stasiun kota tepat waktu, dengan doa dari teman2 di kemping cukstaw, doa dari uni dan kak astrid dan yg lainnya, kata2 penyemangat dari kak Bani: “Mind over Matters” (yg memang terbukti) kaka Titi masih sempat beli makan malam...Alhamdulillah ya kak sampe stasiun ga pake jas hujan (besok2 jangan pake jas hujan dalam taxi ya kak, bawa pawang hujan aja biar aman)

*  Jadwal perjalanan kami pun otomatis berubah, but in a good way, kita semua justru jadi ada bahan cerita saat sudah sampai di penginapan Silvi, (penginapan di daerah Dieng yang dikelola oleh Kakak Perempuan Mas Arifin) mulai dari hebohnya penumpang ditiap gerbong masing-masing, dan kebaikan PT. PJKA yang meberikan kami mie instant siap seduh gratis kepada seluruh penumpang (yang sudah tidak punya tenaga untuk protes) hohoho mie instannya memang gratis, tapi air panasnya tetap bayar kok, (bisa gratis, pake air uap AC yg dijemur hehehe) IDR. 2000 sekali seduh, (kalau nyeduhnya lebih dari sekali kayaknya lebay banget ya, atau mungkin kebanyakan duit sih). Beda dengan Kak nyanyu, karena ingin mengabadikan “kenang-kenangan” dari PT. PJKA tsb. Mie instant siap seduhnya disimpan sampai kita kembali ke Jakarta hehehe (semoga ga dijual lagi ya kak di bus hehehe peace).

* Seharusnya kami tiba di Purwokerto jam 6.45 pagi tanggal 29 Maret 2014, dikarenakan hal yg sudah dijelaskan sebelumnya, jadwal kedatangan kami berubah menjadi jam 12.55 siang yang sudah terang benderang. Maka itenerary pun otomatis berubah, then again: good things come to those who wait...

* Life is beautiful, be grateful...sampe sekarang saya ga tahu kata-kata tersebut siapa yang buat, yang pasti memang kita harus mensyukuri hidup dengan kondisi apapun, karena Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik dan indah untuk kita, dan kali ini untuk saya, kak nyanyu, kak titi dan kak lejid.
Setelah cukup beristirahat dan mengisi perut untuk makan siang, kami pun bersiap menuju tempat camping yang diceritakan kak nyanyu dan kak Arifin (kok jd kak ya? Mas Arifin ah, cukup kak Seto yang pake kak, oke adik2?)

Perjalanan menempuh waktu kurang lebih 30 menit dengan pemandangan jurang terjal dikiri kanan, jembatan kayu yang nyaris putus, hujan deras yang melanda, dan tebing-tebing bercadas tajam yang siap merobek apapun yang nekad melewatinya ditambah petir yang menggelegar cetar membahana...

hmm sepertinya saya sudah mulai mengantuk...

Dieng

Saya ulang...perjalanan menuju Telaga Dringo itu kurang lebih 30 menit, sepanjang perjalanan kami disajikan pemandangan khas Dataran Tinggi Dieng nan asri, perkebunan Kubis dan Kentang dikiri kanan jalan, pemandangan dari kegiatan sore hari penduduk sekitar yang rata-rata baru pulang berkebun atau yang hendak menuju rumah peribadatan (masjid) dan anak-anak kecil yang dengan riangnya bermain didepan halaman rumah mereka, satu kata: calming...benar-benar menenangkan, mereka tampak bahagia menikmati dan mensyukuri hidup dengan cara mereka. Didalam mobil yang isinya kami berempat (dengan bau yg sudah ga karuan banget) mas arifin, mas irul, mas yang bawa mobil, mas yang nemenin mas bawa mobil (hehehe lali aku jarane mas) ac pun kami matikan (tadinya deg-degan takut pengsan kebauan hehehe kidding) dan ternyata suhu diluar sudah dingin alami.

Candradimuka

Tidak berapa lama kami pun tiba disalah satu tempat wisata yang masyur di Dieng, Kawah Candradimuka, (dalam cerita pewayangan, Kawah ini dijadikan tempat  untuk “menempa” jabang tetuko alias Mr. Gatot Kaca oleh para dewata, selain kawah yang mendidih tentunya, mereka pun memasukan berbagai senjata pamungkas mereka agar kelak sang jabang bayi menjadi bayi 4 sehat 5 sempurna bin sakti mandra guna bertulang baja berotot kawat ber......okeh cukup!!) nah kawah ini merupakan kawah aktif yang selalu memancarkan uap dan gas belerang sepanjang waktu (kayak perasaan aku ke dia, memancar sepanjang waktu *tsaaah elaaaah *benerin kemben)




Setelah melewati Kawah Candradimuka yang indah dan panas (kayak penulis), kami harus melewati satu tanjakan, satu turunan, dua tikungan, satu tanjakan lagi dan pastinya satu turunan yang tepat dipengkolan jalan (aih pengkolaaaaan cooong, jaman dulu banget sih brentinya dipengkolan *colekmanjapakebasbetot) kami tiba di pintu masuk Telaga, pemandangannya sungguh luar biasa, sekelilingnya bukit hijau berhias semak belukar berpakis, Cemara tampak memagari jalan menuju Telaga dan kami juga berjumpa dengan para petani yang tengah merawat tanaman kentangnya. keramahan mereka makin membuat kami betah tinggal di Telaga, ralat: di Dieng..

Bukit Kentang      
Sudah menjadi kebiasaan dan hukum tak tertulis atau sebuah rumus jalan-jalan yang paten: pemandangan bagus + turis lokal dan wardrobe kece + teman yg bawa kamera ok + teman yg bawa kamera ok suka motoin temannya yang suka gaya + cuaca mendukung = menikmati indahnya alam dan merasakan arti pertemanan yang sebenarnya.


Telaga Dringgo

13 jam diperjalanan, perang kentut dirumah kakaknya Mas Arifin (maaf banget mas, Nyanyu yg mulai hehehe) pendakian dan buka jalur ke bukit Sumurup, kaki kak Lejid yang keseleo (entah beneran entah modus ingin dipijat hahay hail lubby) kondisi kak Titi yang sudah senin-kamis plus mata melotot saat mendengar kata-kata: “ayooo kita daki Gunung Pakuwaja sekarang juga” (saya yang teriak penuh semangat!!! Lha gimana ga semangat, saya sudah yakin tas saya yg isinya baju buat sebulan itu akan ada yg membawakan) dan kak nyanyu yg sudah pasrah mau diapain aja ama siapa aja hehehe peace kak. 


Beberapa jam kami menikmati panorama telaga menjelang malam, melepas senja yang indah itu berat, seberat melepas mantan yang masih suka membayang laksana semburat mega diambang petang  (semoga pacar saya ga tau blog ini, kalau dia baca bagian ini, bisa tidur digarasi sih). 


 
Senja Bukit Dringgo
Menjelang malam mas Arifin dan teman2nya mempersiapkan api unggun, beberapa rombongan lain tampak datang dan mulai membuka tenda disekitar kami, Alhamdulillah, jadi tidak terlalu sepi. Bahkan dengan menaruh segala rasa hormat saya, beberapa dari mereka ada yang melakukan ibadah ditepian danau, walau tak sedikit pula yang memandang danau penuh arti alias mikirin nasib yang masih Jones (jomblo ngenes, meminjam istilah Kak Astrid)  (colek 3 teman saya...wooy bengong aje lu pade, bae-bae kesambet Nyiahahahaha)

(Drama #12 Api Unggun yang Abadi...(matinya abadi alias susah nyalanya)

Api Unggun basa-basi dan pemuda Batang

Tenda sebelah yang isinya ABG asal daerah Batang dan Pekalongan mulai memasak dengan api unggunnya yang menyala laksana api persembahan suku maya, sementara, api kita masih santai banget nyalanya kayak Bob Marley, sampai-sampai mas mas yg niup-niup nyaris pingsan lho, pingsan karena sebel kebanyakan kita protes, ih kok ga nyala-nyala mas? Gimana sih kok lama? Apinya basah ya mas? Saya ingat betul ada yg nanya itu, maksudnya sih kayunya basah, dan itu saya hehehe...setelah dua jam berlalu (akhirnyaaaaa) api unggun kita pun mulai menampakan tanda-tanda kalau sang api bisa diandalkan dicuaca dingin sekitar telaga, ditambah sumbangan kayu bakar dari tenda pemuda andalan Pekalongan, api unggun kami pun menyala, sebagai tanda terima kasih kita ke pemuda-pemuda tersebut, kita memperbolehkan mereka duduk deket kita hahahaha ga penting banget sih, tapi mereka berebutan deket kita, tapi Cuma pas cemilan kita banyak, pas cemilan habis mereka pun bubar...Fun Ultra Cupcakes Koala (meminjam istilah kak ubermoon.blogspot.com).

Setelah mulai lelah, kami masuk ketenda, kami memutuskan untuk satu tenda berempat (walau itu adalah keputusan yang salah hehehe kidding) yang pertama kali tertidur adalah kak titi. saya, kak nyanyu dan kak lejid masih ngobrol pelan2...sampai akhirnya ketenangan menjelang tidur ditepian telaga dirusak oleh gaduhnya tenda para pemuda itu, ditambah ada yang mencolek kak lejid dari luar tenda, kita berpikiran positif, mungkin ada: orang iseng kurang kerjaan jalan ga pake mata malem-malem dan punya katarak jadi jalan ga liat liat main injak aja tenda orang, kami pun ga peduli, lanjut “mencoba” tidur, saat mulai menapaki detik-detik menuju mimpi...kak titi mengeluarkan soneta indah mahakarya lelah dalam tidur alias ngorok...karena kita sayang kak titi, kita biarkan ia tidur dalam buaian mimpi malam itu (awas aja ya kalau ngorok lagi, kita balurin bensin peyutna biar anget, bungkus daun pisang, masukin ke api unggun, diamkan sejam, angkat, buka daun Pisang, taburi Bawang goreng jika suka!!!) hahaha kidding.

Pink Sky Over Telaga Dringgo

5.02 Pagi, kami terbangun karena semburat merah dilangit yang menanda ketenda, saya dan kak nyanyu keluar menyapa pagi, dengan mulut berbusa, maksudnya beruap ala-ala di Europe plus bau-bauan, kami berdecak mengagumi telaga yang tengah menjelang pagi, riuh kicau burung dan para burung yang sibuk bikinin kami sarapan membuat suasana pagi itu makin indah...
kayaknya ada kata yang salah ya diatas...(efek makin ngantuk)

Titi, Nyanyu, Lejid
Tracking pagi melintasi bukit sekitar telaga dengan panduan mas Arifin yang juga menyisipkan cerita bahwa Tahun 2012 yang lalu, ditemukan 4 kerangka manusia secara tidak sengaja oleh petani yang hendak membuka lahan, setelah disusun perkerangka, kagetlah mereka karena masing-masing kerangka berukuran panjang 4 meter...maha besar Tuhan dengan segala ciptaanNYA, dan itulah yang menjadikan sebuah petilasan tepat dipuncak bukit telaga, dikarenakan jalur tracking kami yang berbeda, kami tidak mengunjungi tempat tersebut.

Puncak Bukit Dringgo

Telaga Dringgo dari Sisi Barat

 
Le Pasta
Selesai tracking, kami dimanjakan oleh masakan mas arifin dan teman-teman, menunya pun special, Spaghetti with chicken and garlic, mantaaaap...makannya dipinggir danau, makin enak karena diliatin orang-orang yang Cuma bikin mie rebus doang hahahahaha (jahat abis) makin sengaja deh makannya keliling-keliling danau bawa bawa piring isi spaghetti, padahal ya kalau ampe tumpah ya udah jatahnya abis. 
Le Us
Satu hal yang saya kagumi dari teman-teman saya yang tergabung di kemping cukstaw, mereka sangat peduli lingkungan, sebisa mungkin kita meninggalkan tempat yang telah memberikan kita panorama indah tanpa sampah, dan pelan-pelan mengajarkan hal tersebut kepada para pecinta dan penikmat alam yang baru saja memulai camping atau naik gunung. Kalau bukan kita yang sadar lingkungan, siapa lagi? Alam milik bersama, harus dijaga kebersihannya.

Le Team
Selesai melipat tenda dan packing ulang, kami siap meninggalkan telaga untuk kembali menuju Dieng, dan kami pun diberikan cuaca yang teduh sepanjang perjalanan pulang, mas Arifin mengajak kami menyusuri telaga dan menyebrangi bukit untuk sampai di tepian Kawah Candradimuka, meeting point kami dengan Kakak Mas Arifin yang sudah siap dengan alphardnya (beuuh...sadis kan).

Bawang Daun
(Drama #13-18: Jadwal Kereta yang tertukar, makan ngebut, Kardus Hina, terminal bus, Credit card)
09.30 kami tiba dipenginapan kembali, mandi, dandan yang cantik, dan bersiap menuju perkebunan Teh Tembi sebagai destinasi wisata terakhir selama kami disini. Semuanya berjalan lancar, perkebunan teh nan elok yang penuh dengan kebun teh (helooooooooooow namanya juga kebun teh, kalu isinya Kangkung namanya rawa) ABG ga modal yang mojok di shelter pemetik teh yang cuek macam beruk kawin di Ragunan, tetap ga peduli walau yang nonton sudah lebih heboh dari yang ditonton (faktor iri, cuaca dingin Cuma ama teman).

Le Tea Plantation
 Selepas jepret kanan kiri atas bawah depan belakang di kebun teh, kami pun makan siang, pilihannya jatuh ke restaurant khas Wonosobo di jalur Dieng-Purwokerto, nah saat detik-detik menjelang dessert, kak nyanyu yang cantik jelita baru lihat tiketnya, disitu tertulis dengan jelas dan lengkap: Yuhuuu kereta berangkat jam 16.30 say, bukan 17.00..nah...saya yang baru mau nambah langsung minum kuah sayur asem karena teh manis yang saya pesan sepertinya masih dipetik tehnya diperkebunan teh tembi yang tadi kami kunjungi (lama bingit, kalau pun datang pasti panas sepanas api cemburu). 

Banjarnegara

Mas Arifin langsung atur strategi, yang bawa mobil harus ga pake rem, tapi tetap pakai celana ya, (kira2 gitu pesan mas Arifin) supaya kak nyanyu ga ketinggalan kereta. Sementara saya pasrah sambil mengingat-ngingat asuransi terakhir udah bayar belum ya? Saya lirik kak Nyanyu tengah sibuk telpon travel agent, kak Lejid komat kamit, tadinya saya pikir berdoa, wah tenang rasanya, ternyata ada jagung sayur asem nyangkut digiginya, kak Titi sudah siap2 mau nina bobo lagi. ditambah hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya saat kita mulai memasuki Purwokerto.

Dengan kondisi jalan yang tengah diguyur hujan ditambah kegelisahan dalam mobil, semua jadi tegang, deg-degan, dan makin tegang pas harus bayar biaya trip ini hehehe (soalnya belum ngambil ATM) drama kumbara makin menjadi saat pacar ketinggalan kereta, eh kak Nyanyu ketinggalan kereta, saya yang mulai emosi karena mendadak semua ATM bisa membaca pikiran saya, alias ga mau ngeluarin duit hehehe, singkat kata, kita menuju terminal bus Purwokerto, dan masih ada yang sempat-sempatnya nanya dimana rumahnya MYNGSRI, (OMG wooooooy siapa ya yg kemarin nanya?) Belum sempat sampe terminal, drama kumbara episode lasmini terjun payung terjadi, credit card saya ketinggalan, wis aku rapopo, wis ta blocked, tinggal nyari tiket bus, dan bagusnya langsung dapat.

Kami sempat ga tega melepas Nyanyu sendirian ke Jakarta naik bus, bagaiman kalau dia kesepian dijalan? Bagaimana kalau dia ketiduran sampe balik lagi ke Purwokerto? Bagaimana kalau dia ga betah di Jakarta? Bagaimana kalau majikannya nanti jahatin dia? Sungguh kami kepikiran (cih tapi ga ada yg mau disuruh nemenin di bus hahaha). Setelah semua drama, tinggal Lejid dan kardus hinanya hahahaha (take that B***h) kardus yang dihindari semua pecinta alam, karena mengurangi kadar gagah penampilan, keril sudah tinggi menjulang bak lemari kos-kosan, jacket sudah paten pecinta alam, tapi kalau masih nenteng kardus mie, imejnya turun lagi wkwkwk peace (tahun lalu saya yg bawa kardus hina). Tepat Jam 07.30 malam kereta Purwajaya kami tiba, siap membawa kami kembali ke Jakarta, mengembalikan kami kembali kepada realita, dan orang-orang tercinta. Selama perjalanan, kami tidur pulas dan terbangun saat kereta sudah sampai di stasiun Bekasi  yang artinya tidak lama lagi kami akan tiba di Jakarta.

Le Train


(Fin...but there will be another stories with my pals)
2.35 pagi, kereta tiba di Gambir, tersadar saat ada satu pesan sms masuk...saya baca perlahan, wah ternyata isinya...
Hey hey...kabari setelah sampai Jakarta...soalnya mau bahas event kita yang bulan April, loe besok masuk kan? (Sialan...kirain pacar)...teman kantor hahaha well setidaknya saya senang mereka masih menantikan saya kembali. Jam 3.30 saya sudah kembali kerumah, dan bersyukur telah diberikan kesempatan dan rezeki untuk liburan dan kesehatan untuk kembali bekerja dikantor tercinta (semoga boss saya baca hehehe)


Terima Kasih buat Kak Nyanyu, Kak Lejid dan Kecup sayang buat Kak Titi juga teman-teman di kemping cukstaw, dan pastinya mas Arifin, Mas Irul dan teman-teman.. i’ll see you soon guys...

Thursday, 10 April 2014

Dieng dan pesonanya (dan dramas didalamnya) Bag. 1



Posh, Titi, Nyanyu, Lejid

"Seindah apapun tempat tujuan wisata, tidak akan lebih indah jika tidak disana bersama mereka yang membuat kita tertawa dan melupakan semua masalah jakarta untuk sementara" (MCKY)

Kembali saya mengiyakan tawaran Kak Nyanyu (bertopi pada gambar diatas) untuk datang dan mengunjungi teman-teman di dataran tinggi Dieng, kebetulan saat beliau menyodorkan tanggal keberangkatan dan kebetulan sekali jadwal event di kantor masih kosong, artinya...wooohooo bisa liburan, 

(Drama #1: Packing). 
Orang-orang terdekat saya sudah hapal betul dengan kebiasaan (buruk) packing saya, kemanapun tujuan liburan, koper atau tas saya selalu lebih penuh dari mereka, sudah bisa ditebak, yang paling banyak dibawa adalah pakaian (asli, ini jangan ditiru, selain berat, juga merepotkan). dan pada kesempatan kali ini, saya dengan pedenya memasukan 16 potong pakaian kedalam keril tercinta saya, tentunya setelah semalaman menjadi bahan tertawaan partner saya, "mau ke gunung kok kayak mau ke Europe" begitu ucapnya. tapi itu tidak mematikan semangat saya, dalam hati saya berkata: ingat: "lebih baik bawa baju lebih ketimbang memakai baju yang sama dalam foto beda lokasi" (hehehe kalau suka difoto silahkan bawa baju lebih, kalau mau praktis, jangan ditiru ya) Beruntung sahabat saya, Kak Lejid dengan penuh kesadaran mengingatkan saya apa saja yang harus dibawa dan apa saja (yang sudah seharusnya ditinggal gal gal gal) dengan senyum puas malam itu saya pandangi keril saya (yang bentuknya lebih mirip koper) dan siap menjelajahi kembali Dataran tinggi Dieng dan sekitarnya.


(Drama #2: Event Kantor)
"Mick, kita harus cari tanggal baru, mba ria mengajukan tanggal 28 March aja, jadi si aktornya bisa datang juga ke acara kita" begitu ucap teman kantor saya tentang jadwal event yg memang harus dirubah, dan itu adalah dua minggu menjelang keberangkatan, eng ing eng drama kecil terjadi, dan saya pun sempat panik, mengingat acaranya cocktail dan nonton bareng maka itu artinya akan bentrok dengan jadwal kereta saya ke Purwokerto, glegh...malam sebelum keberangkatan, semuanya saya siapkan kembali, BATERAI Kamera sudah dicharge, P3k lengkap, all set, tinggal tidur biar besok glowing di dalam kereta. malam itu acara berjalan sesuai rencana, dan bagusnya saat itu rekan saya siap tandem, maka apa yang dikhawatirkan pun bisa dilewati, event kantor berjalan lancar, saya pun siap menuju Stasiun Kereta Kota sambil berdoa dalam hati, semoga jalannya lancar dan tidak macet.

(Drama #3: Kelewatan Turun dan Hujan Deras)
Stasiun Kota dan kesibukan didalamnya menyambut saya yang baru pertama kali menginjakan kaki disana, bangunan berarsitektur kolonial dengan rangkaian baja sebagai sealing menjadi keindahan tersendiri ditempat yang menjadi titik temu saya dan 3 orang teman lainnya. 

Stasiun Kereta Kota
"Kak Titi kelewatan turun, dan sekarang dia lagi muter menuju stasiun tanjung barat, mana hujan deras, dan macet" demikian drama kumbara selanjutnya dimulai, kereta kita berangkat pukul 20.25 W.I.B, dan sekarang pukul 19.45, dalam hati saya "keburu kok, makan dulu aja deh". "hujannya makin deras, jalan menuju stasiun macet parah" demikian info yg saya baca dari group kemping cukstaw, dalam hati saya "titi dan saya pasti pergi ke dieng bersama teman2 lainnya"setelah bertemu dengan kakak nyanyu dan kak lejid disebuah restoran cepat saji di stasiun kota, kami pun memesan makanan dan bersenda gurau, sampai saya bertanya ke kak nyanyu, jadi kalau sampe  kak titi ga nyampe sini tepat waktu, kita gimana? Kak nyanyu: umm...aku cari tiket dulu ya kak, soalnya tiket aku masih di kaka titi, begitu jawab kak nyanyu sambil cengengesan...gemesin...saking gemesnya pengen olesin sambel hehehehe kidding. Saya mencoba tenang dan mencari alternative lain sekiranya kita memang tidak jadi berangkat, misalnya bergabung dengan kak astrid dan kak bulan (teman saya juga di kemping cukstaw) ke carita, sementara kak nyanyu dan kak lejid mencari tiket untuk kak nyanyu sekaligus mencari informasi jadwal keberangkatan kereta ke Purwokerto malam itu, dan waktu menujukan pukul 20.15 dan kak titi masih menunggu kereta yang akan membawanya kesini dari stasiun tanjung barat. 15 menit berlalu, kak nyanyu dan kak lejid kembali dengan kabar bahagia nan sejahtera untuk semua umat manusia, kereta telat, hahahahaha senang bukan kepalang, artinya kak titi tidak telat dan kami tetap bisa kesana bersama sama, dan saya pun teringat kata-kata kak bani, "mind over matters" tsaah elaaah (*salim ke ka bani). ada cerita lucu cenderung menyerempet bahaya, saat kak nyanyu dan kak lejid bertanya ke petugas tiket mengenai jadwal keberangkatan kereta kami, jawaban dari petugas tersebut membuat mereka lupa diri, kira2 seperti ini percakapannya:

Kak lejid: "permisi pak, kereta tujuan Purwokerto kira-kira berangkat jam berapa ya pak" (saat itu kak lejid dan kak nyanyu berada ditengah-tengah puluhan calon penumpang tujuan sama, mereka pun sudah terlihat gelisah dan mulai memasang wajah jengkel karena lamanya kereta yang belum juga muncul) 
Pak Petugas: "oh itu dek, keretanya telat" 
Kak lejid dan Kak nyanyu: "ALHAMDULILLAAAAAAAAAAAAAAAH"
Calon Penumpang: "memandang penuh kebencian dan emosi, lha piye toh, kereta telat kok yo malah seneng"

hihihi jelas saja kita senang, lha wong teman kita yang hobinya bersi-bersih itu masih menuju stasiun kota, dengan telatnya kereta kami, artinya kami bisa tetap pergi bersama meninggalkan Jakarta yang kadang memberikan kita cerita tak terduga, bahkan kadang mengundang air mata. (*menatapfotomantanpacaryglgheitsdistasiuntvbaru) (*curcol)

(Drama #4-8: Menempuh 13 Jam diperjalanan, Jakarta - Purwokerto)
Purwokerto

Selalu ada cerita dalam kereta, kalau teman saya bilang: "orang waras aja naik kreta bisa drama kalau harus menempuh 13 jam perjalanan, gimana loe?" hahahaha jujur saja, saya sudah kehabisan tenaga buat drama, ditambah posisi duduk saya yang kebetulan sekali saat itu kami mendapatkan kursi dikelas ekonomi, dengan semburan ac yang hangat hangat kuku, dan jarak kaki yang lumayan dekat dengan penumpang diseberang saya, drama kumbara pun sudah tidak terpikirkan, yang ada hanyalah: sampai dengan selamat di Purwokerto dan bertemu mba mayang secepatnya, ralat: maksud saya mas Arifin, (maaf yak...efek kelamaan duduk dikereta jadi terbawa hehehe). Tapi, benar apa yang dibilang orang2 bijak, setiap kejadian, ambil hikmahnya, nikmati prosesnya dan tunggu hasil terbaiknya, memang jarak tempuhnya jadi panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang, tetapi pemandangan yang kami nikmati pun elok sekali, jalur selatan memberikan maha karya Tuhan dalam ukiran pemandangan nyata berupa hamparan sawah, lekukan sungai dan rimbunnya belukar yang menyejukan mata, penghibur pantat yang lara, sedikit banyak kami pun terhibur.



Jreng Jreng
(Drama #9: Baterai Kamera)
Siapapun itu, baik amatir ataupun ahli foto, jika disajikan pemandangan yang indah, pasti akan segera beraksi jepret kanan jepret kiri, bidik atas, bidik bawah, pokoknya harus mengabadikan pemandangan atau objek yang indah, tentunya dengan dukungan camera yang mumpuni, baik dari camera handphone atau camera digital. saya pun tak kalah heboh, melihat pemandangan yang kece, segera saya mengeluarkan kamera, tapi...akan tetapi...kamera terasa ringan, setelah saya cek, ternyata saya teringat sesuatu, baterai kamera masih duduk manis diatas chargernya di coffee table rumah...pemandangan bagus? liatin aja mik, secara hp loe juga dua duanya lowbatt. saat itu saya ingin sekali rasanya berkebun untuk melampiaskan emosi karena ketololan sendiri lupa memasukan baterai tersebut. berbekal baterai dua bar, saya browsing tempat jual kamera di Purwokerto, ahoy...dapat...satu toko kamera yang lengkap dengan segala isinya yang sangat berguna bagi pengguna kamera pelupa seperti saya, saya pun langsung menghubungi nomor telpon tokonya, sekali, dua kali, enam kali ga diangkat...hmmm kalau sampai baterai ke***at tersebut ga ada, saya akan dinyinyirin seumur hidup sama teman2 saya ini. hasil browsing yang kedua menunjukan ada satu toko lain yang bisa dihubungi, Alhamdulillah, tenang rasanya. (dan teman2 saya pun lebih keras nyebut Alhamdulillahnya, tau kan kenapa? biar usaha mereka bawa wardrobe dari Jakarta ga sia-sia hehehe)

(Drama #10: Sugeng mana Sugeng???)
Pukul 13.15 kami pun tiba di Purwokerto, kota yang mendadak naik pamor karena...(stop!!! jangan gossip!!!, fokus ke jurnal perjalanan) ok, sampai mana tadi? oke, kota yang terkenal dengan penyanyi wanita yang...oke ganti topik. Sampai Stasiun Purwokerto kami disambut cuaca hangat khas kota dan tentunya teman-teman kami dari Dieng, Mas Arifin, Mas Irul, dan Mas jenggot, hmm something wrong here, where's my arjuna? Mr. Sugeng smile all the time, rupanya teman kita yang bernama Sugeng ga bisa jemput. the show must go on, with or without you, i go with you hehehe, kita langsung menuju rumah makan khas Purwokerto yang terkenal dengan makanan khas kota yang terkenal dengan penyanyi yang... maksudnya dengan Srotonya, makanan sejenis soto yang berisi suwiran daging ayam, bihun dan emping, disiram sejenis kuah kuning dan taburan bawang putih goreng, sungguh sajian yang tepat saat perut keroncongan, jangan lupa untuk memesan es duren sebagai hidangan pentupnya, air putih jangan lupa ya, biar ga seret nanti.

(Drama #11: Baterai Kamera...ternyata...dan perang kentut

Titi,Nyanyu,Lejid

Setelah puas mengisi perut dengan sroto dan es durian yang semeninghoy (enak banget) kami melanjutkan perjalanan menuju drama maksudnya menuju tempat penjualan kamera dan teman-temannya, setelah sekitar 15 menit mencari alamat yang dituju, akhirnya sampailah kami ditoko tersebut, baterainya ada, senanglah semua peserta, semua bahagia, tertawa bersama sama. sepanjang perjalanan Purwokerto - Dieng, kami habiskan untuk beristirahat. kami sempat berhenti sejenak di jembatan sekitar Dieng-Banjarnegara untuk melemaskan otot kaki dan menghirup udara sejuk (dan tentunya ditambah dengan teriakan-teriakan manja teman-teman saya, foto foto foto hehehe) 


Sekitar pukul 17.45 kami tiba di Dataran Tinggi Dieng, kabut tipis dan udara sejuk menyambut kami yang sudah kelelahan, semerbak harum Durian menusuk hidung, kami pun tak melewatkan kesempatan untuk mencicipi durian tersebut dan memang rasanya lezat, bertekstur selembut alpukat mentega, berbau selembut durian parung dan harganya pun murah, 3 buah durian besar hanya seharga 120 ribu, benar-benar kami dimanjakan oleh teman-teman kami di Dieng. 

Durian Dieng

Sesampainya di penginapan yang dikelola kakak perempuan mas arifin, kami pun melepas lelah dengan berjalan jalan ke sekitar komplek candi Arjuna (kebetulan jaraknya dekat sekali dengan penginapannya) dan jajan bakso didepan Candi, bakso asin...Menjelang Maghrib, kami kembali ke penginapan, unpacking barang bawaan masing-masing dan munculah sebuah benda yang ingin rasanya saya bakar saat itu juga tapi ingin saya cium disaat yang bersamaan, baterai kamera saya ternyata terbawa, hanya saja masuk kedalam keril, bukan kedalam bodi cameranya , hikmahnya..saya jadi punya baterai cadangan disana. setelah selesai mandi dan wangi, mas Arifin mengajak kami yang hanya berempat untuk makan malam disebuah rumah makan tepat ditengah pusat Kota Dieng, Rumah Makan Bu Jono, makanan yang disajikan standard, nasgor, mie rebus, mie goreng dan aneka minuman hangat, sebotol bir bintang menjadi teman makan mie rebus saya malam itu, dan memang nikmat sekali rasanya, apalagi bersama teman-teman tercinta. selesai makan malam kami kembali ke penginapan, perut kenyang, hati senang, tidur pun nyenyak, nyenyak? setiap kami liburan atau jalan bersama (Kemping Cukstaw) selalu ada cerita atau hal-hal konyol yang kami lakukan bersama, selain untuk menghilangkan stress, apa yang kami lakukan seringkali untuk lucu-lucuan, walau kadang sulit diterima akal sehat, misalnya..perang kentut sebelum tidur, kali ini antara saya dan kak nyanyu, sampai detik ini skor kami seri. malam itu kami tidur nyenyak, membayar kelelahan dan waktu istirahat yang tersita jarak tempuh yang tertunda (seperti perasaanku ke dia, tertunda, tanpa batas, tanpa daya) (*curcol)

Tanpa Drama...Jelajah Bukit Sumurup
March 29th 2014, Pagi yang elok, kesejukan khas Dieng menyapa kami yang siap dengan semua cerita dan petualang yang Dieng berikan kepada kami hari ini. Mas Irul sang penjantan maksud saya sang pemimpin jalan, tak kalah siapnya dengan kami, dan setelah berdoa untuk keselamatan kami sepanjang perjalanan, kami pun menuju Bukit Sumurup (dinamakan Sumurup, karena matahari yang terbit melewati bukit ini selalu sudah tepat berada diatas kepala dan sinarnya bikin silau).

 Jalur yang kami tempuh melewati komplek Candi Arjuna, Candi Gatotkaca dan Museum Dieng Kailasa dan terus melewati ladang kentang penduduk dan bukit Sumurup, trackingnya menanjak dan kalau dilihat dari jalurnya, sudah lama sekali orang melewati jalan ini, rimbunnya semak belukar dan rapatnya vegetasi sekitar jalan, mengindikasikan kalau setelah sekian lama, kamilah orang pertama yang membuka jalur tersebut kembali. dari kejauhan tampak asap dari kawah dibawah bukit mengepul menjujung langit, suasana mistis sedikit kami rasakan karena heningnya bukit tersebut, bahkan suara kicau burung pun tak terdengar, walau begitu, pemandangan sekitar bukit sangatlah indah, ditambah dengan banyaknya arbei liar yang bisa kita nikmati disepanjang jalur pendakian. 

Kira-kira satu jam lebih perjalanan kami tiba di punggung Bukit Sumurup, pemandangan danau vulkanik pun terlihat, bentuknya lebih menyerupai savana ditengah gunung dengan danau dipinggirannya, kalau saat ini saya bersama keluarga kak Dini dan kak Rio dan dua jagoan putrinya, Keke & Isya, saya pasti akan lari-larian di Savana Sumurup, kalau saya bersama kak Astrid dan Kak Narny, pastinya sudah catwalk-ing disepanjang bukit hehehe kalau bawa uni dan kak atiek, hmm kebayang deh hehehe. sekitar satu jam lebih kami menghabiskan waktu di Bukit Sumurup, foto-foto adalah hal wajib yang harus dilakukan hehehe, bagusnya ide kak nyanyu untuk membawa payung warna-warni.

Umbrella's guys

Keheningan Bukit Sumurup yang suci pun pecah dengan derai tawa dan instruksi pose dari photographer kami yang galak dan ja***am..saya. Pemandangan seputar Bukit Sumurup sangat tenang, hamparan rerumputan yang dipagari Rumpun Bambu, Akasia, Mahogani dan Jarak sangatlah menenangkan, dari cerita Mas Irul, masih banyak terdapat Babi Hutan disekitar bukit Sumurup, terlihat dari beberapa jejaknya yang tertinggal disemak belukar dan jejak kuku kaki babi disekitar sumber air. Selesai dengan bukit Sumurup, kami kembali ke penginapan melalui jalur yang sama, beruntung kali ini tidak terlalu sepi, karena kami bertemu dengan para petani yang mendaki bukit Sumurup dengan motor trail. (suasananya sedikit mencekam sejak langitnya makin mendung, phew bagus deh ada teman-teman yang naik motor)




Mas Irul dalam Savana Sumurup
Sejak awal perjalanan, kami memang berniat untuk menginap di Gunung Pakuwaja, maka kami pun segera bersiap menuju Gunung tersebut setelah sampai dipenginapan. tetapi mengingat banyaknya pendaki gunung saat ini, Mas Arifing mempunyai ide agar kita menginap di telaga saja, selain tempatnya sepi, pemandangan disana pun cantik, tanpa banyak ba-bi-bu, kami menuju telaga tersebut, setelah sebelumnya mengisi perut disebuah restauran di Dieng. (Bersambung)