![]() |
Telaga Dringgo menjelang pagi |
Dimana Bumi dipijak, Disitu Langit dijunjung...Hormati tempat tujuan
dengan tidak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki, tidak mengambil apapun
kecuali foto (dan jangan pipis disamping tenda kecuali kebelet hehehe)
Sebelum saya lanjutkan perjalanan saya ke Telaga Dringgo, kami sadar
bahwa inilah hikmah yang kami ambil setelah beberapa kejadian berikut:
* Kereta tujuan Purwokerto yang
telat 2 jam memberikan kami banyak waktu untuk menunggu dan menyiapkan kembali
apa kiranya bahan persiapan yang masih belum lengkap, kebetulan sekali Stasiun
Kota sudah dilengkapi dengan beberapa minimart yang sangat terlihat jelas
saling berkompetisi untuk mendapatkan pembeli, "kenapa sih mereka saingannya
sampe segitu amatnya? Satu aja ga cukup ya?" (jadi panjang yaaaa), oke lanjut
* Sejak hampir dibawa lari supir
taxi hehehe (reeebay), lebih tepatnya: karena sibuk memakai jas hujan didalam
taxi (nah...sampe skrg saya juga bingung kenapa dia pake jas hujan dalam taxi
ya?) dan akhirnya jadi kelewatan, kak Titi pun sukses stress bersama
supir taxi yang over dosis pedenya (jadi sebenernya kak, ngapain ya pake jas
hujan dalam taxi? Bukannya pas turun stasiun bisa lari-lari kecil ala film
sounds of music gitu ya? Atau kalau pas ada efek hujannya jadi mirip mirip lari centi manja minta dikejar ala Film
bollywood) (panjaaaangin aja teruuus mik)
intinya kak Titi berhasil sampai
stasiun kota tepat waktu, dengan doa dari teman2 di kemping cukstaw, doa dari
uni dan kak astrid dan yg lainnya, kata2 penyemangat dari kak Bani: “Mind over
Matters” (yg memang terbukti) kaka Titi masih
sempat beli makan malam...Alhamdulillah ya kak sampe stasiun ga pake jas hujan
(besok2 jangan pake jas hujan dalam taxi ya kak, bawa pawang hujan aja biar
aman)
* Jadwal perjalanan kami pun
otomatis berubah, but in a good way, kita semua justru jadi ada bahan cerita
saat sudah sampai di penginapan Silvi, (penginapan di daerah Dieng yang
dikelola oleh Kakak Perempuan Mas Arifin) mulai dari hebohnya penumpang ditiap
gerbong masing-masing, dan kebaikan PT. PJKA yang meberikan kami mie instant
siap seduh gratis kepada seluruh penumpang (yang sudah tidak punya tenaga untuk
protes) hohoho mie instannya memang gratis, tapi air panasnya tetap bayar kok,
(bisa gratis, pake air uap AC yg dijemur hehehe) IDR. 2000 sekali seduh, (kalau
nyeduhnya lebih dari sekali kayaknya lebay banget ya, atau mungkin kebanyakan
duit sih). Beda dengan Kak nyanyu, karena ingin mengabadikan “kenang-kenangan”
dari PT. PJKA tsb. Mie instant siap seduhnya disimpan sampai kita kembali ke
Jakarta hehehe (semoga ga dijual lagi ya kak di bus hehehe peace).
* Seharusnya kami tiba di Purwokerto
jam 6.45 pagi tanggal 29 Maret 2014, dikarenakan hal yg sudah dijelaskan
sebelumnya, jadwal kedatangan kami berubah menjadi jam 12.55 siang yang sudah
terang benderang. Maka itenerary pun otomatis berubah, then again: good things come to those who wait...
* Life is beautiful, be grateful...sampe sekarang saya ga tahu kata-kata
tersebut siapa yang buat, yang pasti memang kita harus mensyukuri hidup dengan
kondisi apapun, karena Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik dan indah untuk
kita, dan kali ini untuk saya, kak nyanyu, kak titi dan kak lejid.
Setelah cukup beristirahat dan mengisi perut untuk makan siang, kami
pun bersiap menuju tempat camping yang diceritakan kak nyanyu dan kak Arifin
(kok jd kak ya? Mas Arifin ah, cukup kak Seto yang pake kak, oke adik2?)
Perjalanan menempuh waktu kurang lebih 30 menit dengan pemandangan
jurang terjal dikiri kanan, jembatan kayu yang nyaris putus, hujan deras yang
melanda, dan tebing-tebing bercadas tajam yang siap merobek apapun yang nekad
melewatinya ditambah petir yang menggelegar cetar membahana...
hmm sepertinya
saya sudah mulai mengantuk...
![]() |
Dieng |
Saya ulang...perjalanan menuju Telaga Dringo itu kurang
lebih 30 menit, sepanjang perjalanan kami disajikan pemandangan khas Dataran
Tinggi Dieng nan asri, perkebunan Kubis dan Kentang dikiri kanan jalan, pemandangan
dari kegiatan sore hari penduduk sekitar yang rata-rata baru pulang berkebun
atau yang hendak menuju rumah peribadatan (masjid) dan anak-anak kecil yang
dengan riangnya bermain didepan halaman rumah mereka, satu kata:
calming...benar-benar menenangkan, mereka tampak bahagia menikmati dan
mensyukuri hidup dengan cara mereka. Didalam mobil yang isinya kami berempat
(dengan bau yg sudah ga karuan banget) mas arifin, mas irul, mas yang bawa
mobil, mas yang nemenin mas bawa mobil (hehehe lali aku jarane mas) ac pun kami
matikan (tadinya deg-degan takut pengsan kebauan hehehe kidding) dan ternyata
suhu diluar sudah dingin alami.
![]() |
Candradimuka |
Tidak berapa lama kami pun tiba disalah satu tempat wisata yang masyur
di Dieng, Kawah Candradimuka, (dalam cerita pewayangan, Kawah ini dijadikan tempat
untuk “menempa” jabang tetuko alias Mr.
Gatot Kaca oleh para dewata, selain kawah yang mendidih tentunya, mereka pun
memasukan berbagai senjata pamungkas mereka agar kelak sang jabang bayi menjadi
bayi 4 sehat 5 sempurna bin sakti mandra guna bertulang baja berotot kawat ber......okeh
cukup!!) nah kawah ini merupakan kawah aktif yang selalu memancarkan uap dan
gas belerang sepanjang waktu (kayak
perasaan aku ke dia, memancar sepanjang waktu *tsaaah elaaaah *benerin kemben)
Setelah melewati Kawah Candradimuka yang indah dan panas (kayak
penulis), kami harus melewati satu tanjakan, satu turunan, dua tikungan, satu
tanjakan lagi dan pastinya satu turunan yang tepat dipengkolan jalan (aih pengkolaaaaan cooong, jaman dulu banget
sih brentinya dipengkolan *colekmanjapakebasbetot) kami tiba di pintu masuk
Telaga, pemandangannya sungguh luar biasa, sekelilingnya bukit hijau berhias
semak belukar berpakis, Cemara tampak memagari jalan menuju Telaga dan kami
juga berjumpa dengan para petani yang tengah merawat tanaman kentangnya. keramahan mereka makin membuat kami betah tinggal di Telaga, ralat: di Dieng..
![]() |
Bukit Kentang |
Sudah menjadi kebiasaan dan hukum tak tertulis atau sebuah rumus
jalan-jalan yang paten: pemandangan bagus + turis lokal dan wardrobe kece +
teman yg bawa kamera ok + teman yg bawa kamera ok suka motoin temannya yang
suka gaya + cuaca mendukung = menikmati indahnya alam dan merasakan arti
pertemanan yang sebenarnya.
![]() |
Telaga Dringgo |
13 jam diperjalanan, perang kentut dirumah kakaknya Mas
Arifin (maaf banget mas, Nyanyu yg mulai hehehe) pendakian dan buka jalur ke
bukit Sumurup, kaki kak Lejid yang keseleo (entah beneran entah modus ingin
dipijat hahay hail lubby) kondisi kak Titi yang sudah senin-kamis plus mata
melotot saat mendengar kata-kata: “ayooo kita daki Gunung Pakuwaja sekarang
juga” (saya yang teriak penuh semangat!!! Lha gimana ga semangat, saya sudah
yakin tas saya yg isinya baju buat sebulan itu akan ada yg membawakan) dan kak
nyanyu yg sudah pasrah mau diapain aja ama siapa aja hehehe peace kak.
Beberapa
jam kami menikmati panorama telaga menjelang malam, melepas senja yang indah
itu berat, seberat melepas mantan yang
masih suka membayang laksana semburat mega diambang petang (semoga pacar saya ga tau blog ini, kalau dia
baca bagian ini, bisa tidur digarasi sih).
Menjelang malam mas Arifin dan teman2nya mempersiapkan api unggun,
beberapa rombongan lain tampak datang dan mulai membuka tenda disekitar kami,
Alhamdulillah, jadi tidak terlalu sepi. Bahkan dengan menaruh segala rasa
hormat saya, beberapa dari mereka ada yang melakukan ibadah ditepian danau,
walau tak sedikit pula yang memandang danau penuh arti alias mikirin nasib yang
masih Jones (jomblo ngenes, meminjam istilah Kak Astrid) (colek 3 teman saya...wooy bengong aje lu pade,
bae-bae kesambet Nyiahahahaha)
(Drama #12 Api Unggun yang Abadi...(matinya abadi alias susah nyalanya)
![]() |
Api Unggun basa-basi dan pemuda Batang |
Tenda sebelah yang isinya ABG asal daerah Batang dan Pekalongan mulai
memasak dengan api unggunnya yang menyala laksana api persembahan suku maya,
sementara, api kita masih santai banget nyalanya kayak Bob Marley,
sampai-sampai mas mas yg niup-niup nyaris pingsan lho, pingsan karena sebel
kebanyakan kita protes, ih kok ga nyala-nyala mas? Gimana sih kok lama? Apinya
basah ya mas? Saya ingat betul ada yg nanya itu, maksudnya sih kayunya basah,
dan itu saya hehehe...setelah dua jam berlalu (akhirnyaaaaa) api unggun kita
pun mulai menampakan tanda-tanda kalau sang api bisa diandalkan dicuaca dingin
sekitar telaga, ditambah sumbangan kayu bakar dari tenda pemuda andalan Pekalongan,
api unggun kami pun menyala, sebagai tanda terima kasih kita ke pemuda-pemuda
tersebut, kita memperbolehkan mereka duduk deket kita hahahaha ga penting
banget sih, tapi mereka berebutan deket kita, tapi Cuma pas cemilan kita
banyak, pas cemilan habis mereka pun bubar...Fun Ultra Cupcakes Koala (meminjam istilah kak ubermoon.blogspot.com).
Setelah mulai lelah, kami masuk ketenda, kami memutuskan untuk satu
tenda berempat (walau itu adalah keputusan yang salah hehehe kidding) yang
pertama kali tertidur adalah kak titi. saya, kak nyanyu dan kak lejid masih
ngobrol pelan2...sampai akhirnya ketenangan menjelang tidur ditepian telaga
dirusak oleh gaduhnya tenda para pemuda itu, ditambah ada yang mencolek kak
lejid dari luar tenda, kita berpikiran positif, mungkin ada: orang iseng kurang kerjaan jalan ga pake
mata malem-malem dan punya katarak jadi jalan ga liat liat main injak aja tenda
orang, kami pun ga peduli, lanjut “mencoba” tidur, saat mulai menapaki
detik-detik menuju mimpi...kak titi mengeluarkan soneta indah mahakarya lelah
dalam tidur alias ngorok...karena kita sayang kak titi, kita biarkan ia tidur
dalam buaian mimpi malam itu (awas aja ya kalau ngorok lagi, kita balurin
bensin peyutna biar anget, bungkus daun pisang, masukin ke api unggun, diamkan
sejam, angkat, buka daun Pisang, taburi Bawang goreng jika suka!!!) hahaha
kidding.
5.02 Pagi, kami terbangun karena semburat merah dilangit yang menanda
ketenda, saya dan kak nyanyu keluar menyapa pagi, dengan mulut berbusa,
maksudnya beruap ala-ala di Europe plus bau-bauan, kami berdecak mengagumi
telaga yang tengah menjelang pagi, riuh kicau burung dan para burung yang sibuk
bikinin kami sarapan membuat suasana pagi itu makin indah...
kayaknya ada kata
yang salah ya diatas...(efek makin ngantuk)
![]() |
Titi, Nyanyu, Lejid |
Tracking pagi melintasi bukit sekitar telaga dengan panduan mas Arifin
yang juga menyisipkan cerita bahwa Tahun 2012 yang lalu, ditemukan 4 kerangka
manusia secara tidak sengaja oleh petani yang hendak membuka lahan, setelah
disusun perkerangka, kagetlah mereka karena masing-masing kerangka berukuran
panjang 4 meter...maha besar Tuhan dengan segala ciptaanNYA, dan itulah yang
menjadikan sebuah petilasan tepat dipuncak bukit telaga, dikarenakan jalur
tracking kami yang berbeda, kami tidak mengunjungi tempat tersebut.
![]() |
Puncak Bukit Dringgo |
![]() |
Telaga Dringgo dari Sisi Barat |
Selesai tracking, kami dimanjakan oleh masakan mas arifin dan
teman-teman, menunya pun special, Spaghetti with chicken and garlic,
mantaaaap...makannya dipinggir danau, makin enak karena diliatin orang-orang
yang Cuma bikin mie rebus doang hahahahaha (jahat abis) makin sengaja deh
makannya keliling-keliling danau bawa bawa piring isi spaghetti, padahal ya
kalau ampe tumpah ya udah jatahnya abis.
![]() |
Le Us |
Satu hal yang saya kagumi dari teman-teman saya yang tergabung di
kemping cukstaw, mereka sangat peduli lingkungan, sebisa mungkin kita meninggalkan
tempat yang telah memberikan kita panorama indah tanpa sampah, dan pelan-pelan
mengajarkan hal tersebut kepada para pecinta dan penikmat alam yang baru saja
memulai camping atau naik gunung. Kalau bukan kita yang sadar lingkungan, siapa
lagi? Alam milik bersama, harus dijaga kebersihannya.
![]() |
Le Team |
Selesai melipat tenda dan packing ulang, kami siap meninggalkan telaga
untuk kembali menuju Dieng, dan kami pun diberikan cuaca yang teduh sepanjang
perjalanan pulang, mas Arifin mengajak kami menyusuri telaga dan menyebrangi
bukit untuk sampai di tepian Kawah Candradimuka, meeting point kami dengan
Kakak Mas Arifin yang sudah siap dengan alphardnya (beuuh...sadis kan).
![]() |
Bawang Daun |
(Drama #13-18: Jadwal Kereta yang tertukar, makan ngebut, Kardus Hina, terminal
bus, Credit card)
09.30 kami tiba dipenginapan kembali, mandi, dandan yang cantik, dan
bersiap menuju perkebunan Teh Tembi sebagai destinasi wisata terakhir selama
kami disini. Semuanya berjalan lancar, perkebunan teh nan elok yang penuh
dengan kebun teh (helooooooooooow namanya juga kebun teh, kalu isinya Kangkung
namanya rawa) ABG ga modal yang mojok di shelter pemetik teh yang cuek macam
beruk kawin di Ragunan, tetap ga peduli walau yang nonton sudah lebih heboh
dari yang ditonton (faktor iri, cuaca dingin Cuma ama teman).
![]() |
Le Tea Plantation |
Selepas jepret
kanan kiri atas bawah depan belakang di kebun teh, kami pun makan siang,
pilihannya jatuh ke restaurant khas Wonosobo di jalur Dieng-Purwokerto, nah
saat detik-detik menjelang dessert, kak nyanyu yang cantik jelita baru lihat
tiketnya, disitu tertulis dengan jelas dan lengkap: Yuhuuu kereta berangkat jam
16.30 say, bukan 17.00..nah...saya yang baru mau nambah langsung minum kuah
sayur asem karena teh manis yang saya pesan sepertinya masih dipetik tehnya diperkebunan
teh tembi yang tadi kami kunjungi (lama bingit, kalau pun datang pasti panas
sepanas api cemburu).
Banjarnegara
Mas Arifin langsung atur strategi, yang bawa mobil harus
ga pake rem, tapi tetap pakai celana ya, (kira2 gitu pesan mas Arifin) supaya kak
nyanyu ga ketinggalan kereta. Sementara saya pasrah sambil mengingat-ngingat asuransi
terakhir udah bayar belum ya? Saya lirik kak Nyanyu tengah sibuk telpon travel agent,
kak Lejid komat kamit, tadinya saya pikir berdoa, wah tenang rasanya, ternyata
ada jagung sayur asem nyangkut digiginya, kak Titi sudah siap2 mau nina bobo
lagi. ditambah hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya saat kita mulai memasuki Purwokerto.
Dengan kondisi jalan yang tengah diguyur hujan ditambah kegelisahan dalam mobil, semua jadi tegang, deg-degan, dan makin tegang pas harus bayar biaya trip ini hehehe
(soalnya belum ngambil ATM) drama kumbara makin menjadi saat pacar ketinggalan
kereta, eh kak Nyanyu ketinggalan kereta, saya yang mulai emosi karena mendadak semua
ATM bisa membaca pikiran saya, alias ga mau ngeluarin duit hehehe, singkat kata, kita
menuju terminal bus Purwokerto, dan masih ada yang sempat-sempatnya nanya
dimana rumahnya MYNGSRI, (OMG wooooooy siapa ya yg kemarin nanya?) Belum sempat
sampe terminal, drama kumbara episode lasmini terjun payung terjadi, credit
card saya ketinggalan, wis aku rapopo, wis ta blocked, tinggal nyari tiket bus,
dan bagusnya langsung dapat.
Kami sempat ga tega
melepas Nyanyu sendirian ke Jakarta naik bus, bagaiman kalau dia kesepian
dijalan? Bagaimana kalau dia ketiduran sampe balik lagi ke Purwokerto?
Bagaimana kalau dia ga betah di Jakarta? Bagaimana kalau majikannya nanti
jahatin dia? Sungguh kami kepikiran (cih tapi ga ada yg mau disuruh nemenin di
bus hahaha). Setelah semua drama, tinggal Lejid dan kardus hinanya hahahaha
(take that B***h) kardus yang dihindari semua pecinta alam, karena mengurangi
kadar gagah penampilan, keril sudah tinggi menjulang bak lemari kos-kosan, jacket sudah
paten pecinta alam, tapi kalau masih nenteng kardus mie, imejnya turun lagi
wkwkwk peace (tahun lalu saya yg bawa kardus hina). Tepat Jam 07.30 malam
kereta Purwajaya kami tiba, siap membawa kami kembali ke Jakarta, mengembalikan
kami kembali kepada realita, dan orang-orang tercinta. Selama perjalanan, kami
tidur pulas dan terbangun saat kereta sudah sampai di stasiun Bekasi yang artinya
tidak lama lagi kami akan tiba di Jakarta.
![]() |
Le Train |
(Fin...but there will be another stories with my pals)
2.35 pagi, kereta tiba di Gambir, tersadar saat ada satu pesan sms masuk...saya
baca perlahan, wah ternyata isinya...
Hey hey...kabari setelah
sampai Jakarta...soalnya mau bahas event kita yang
bulan April, loe besok masuk kan? (Sialan...kirain pacar)...teman kantor hahaha
well setidaknya saya senang mereka masih menantikan saya kembali. Jam 3.30 saya
sudah kembali kerumah, dan bersyukur telah diberikan kesempatan dan rezeki
untuk liburan dan kesehatan untuk kembali bekerja dikantor tercinta (semoga
boss saya baca hehehe)
Terima Kasih buat Kak Nyanyu, Kak Lejid dan Kecup sayang buat Kak Titi
juga teman-teman di kemping cukstaw, dan pastinya mas Arifin, Mas Irul dan
teman-teman.. i’ll see you soon guys...
Kamikiiihh..
ReplyDeleteAku bukan sibuk pake jas hujan di dalam taksi, tapi sibuk makein raincoat ke si backpack, hahahahaha
^pembelaan gadis ngorok*
mantaaabbbbbbbbb
ReplyDeletemantaaabbbbbbbbb
ReplyDelete